Makna Intelektual “Iman, Islam dan Intelektual”

“Gerakan Intelektual Se Aceh (GISA) lahir tanggal  12 Febuari  2012 di Kuta Banda Aceh, GISA merupakan yang paling muda usianya,tapi inya Allah  GISA banyak menaruh harapan lahirnya kader – kader potensial, terutama yang memiliki kesempatan secara intelektual”.

Gambar

 

  Dalam pengkaderan GISA, komponen kualitas intelektual adalah untuk menentukan kualitas kader kedepannya,ketajaman intelektual akan menggugah kesadaran nurani untuk setiap saat memikirkan kondisi social.seorang intelektual sejati tidak akan pernah diam berfikir dan bergerak untuk merenungkan,mencermati, dan mencarikan solusi demi perbaikan kualitas kesejahteraan manusia.karna seorang intelektual adalah seorang pemikir serta seorang yang berada di tengah-tengah masyarakat.Inteaktual sering dilawankan dengan kebebalan.kebebalan merupakan sesuatu yang bersifat otoriter dan tidak berdasarkan pada exsperimen,orang yang bebal merupakan orang yang tdak mempunyai daya antisipasi(lambat bersikap dan reaktif),tidak kreatif serta      cenderum kurang rasional. Sementara kaum intelektual merupakan kelompok kecil masyarakat yang hidup dan bergaul dalam kelompok terbatas,seorang intelaktual adalah seorang yang memusatkan diri memikirkan ide dan masalah non-material dengan menggunaan penalarannya.

  Sebagai organisasi pengkaderan, GISA berfungsi mewadahi aspirasi perjuangan dalam upaya menghimpun, menggerakan serta menggembleng mahasiswa islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawab sebagai kader kader Aceh.Tiga kompetensi dasar tersebut merupakan akar dari identitas gerakan GISA yang merupakan dasar dalam peroses pengkaderan. Sebab memang GISA pada dasarnya adalah gerakan mahasiswa yang berdasarkan diri pada tiga ranahan penting, kemahasiswaan (basis intelektual), kemasyarakatan (basis humanitas), dan keagamaan (basis religiusitas). Dengan demikian , ketiganya saling berkaitan menciptakan  gerakan intelektual. Bersangkutan dengan tiga ranah gerakan GISA ini, (Inisiator), ketua I DPP GISA, merumuskan bahwa identitas GISA paling tidak ada 6 pokok yang perlu di jadikan prinsip dan di kembangkan untuk gerakan GISA dari masa ke masa, enam rumusan tersebut adalah:

Sebagai Kader, harus di dukung oleh kualitas
-memadukan aqidah dengan intelektualitas
-tertib dalam Ibadah
-tekun belajar
-Ilmu amaliah, amal ilmiah
-untuk kepentingan masyarakat

  Pertama, meneguhkan prinsip tauhid. Peradaban dunia yang di bangung umat manusia dewasa ini telah kehilangan nilai ketuhanan, bahkan lebi mengarah pada kepada orientasi kemanusiaan.

  Kedua, menggunakan nalar intelektualnya untuk berfikir bebas( selama tidak keluar batasan yang telah digariskan dalam prinsip-prinsip Ahlussunnah Waljamaah), sebab, seorang intelektual memeiliki karakter untuk dapat berfikir bebas tampa adanya tekanan dari sistem, orang lain, maupun dorongan kelompok tertentu, inilah intelektual murni, berdiri sendiri,tidak memiliki hubungan dengan kepentingan politik duniawi kotor.

  Ketiga, mengusung lampu– lampu(lampu) kebenaran. Lampu kebenaran adalah tanggung jawab moral kaum intelektual dari kalangan mahasiswa. Al hizqiyal memandang bahwa kaum intelektual memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar terhadap setiap krisis yang terjadi di Aceh ini.

  Keempat, memperdalam nalar intelektual, “ seorang intelektual memiliki kelebihan bila di bandingkan engan filsafah dan sarjana”

 

  Untuk memperdalam nalar intelektual dalam GISA,dapat memperluar dan menyediakan ruang – ruang pengembangan berbasis nalar intelektual. Membuka lebar – lebar ruang baca, ruang fikir di tingkatkan, dan ruangan tulisa di budayakan sebagai bentuk pengembangan keilmuan tersebut.tidak ada yang tidak mungkin untuk di lakukan, sebab bila ada kemauan yang tinggi untuk membangun GISA, dengan daya bakat yang di milikinya. Apalagi dalam ruang yang tampa batas ini, identitas baik kelompok maupun individu semakin kabur dan tidak jelas, termasuk di dalamnya gerakan mahasiswa. Pada dasarnya mahasiswalah yg mempunyai peranan penting untuk membawa sebua perubah yg lebih baik terutama diera yg moderenisasi saat ini,salah satu factor pendorong di rintisnya GISA adalah sebagai organisasi  gerakan dakwah islam yg biasa membawa perubahan di dalam tatanan masyarakat Aceh. Secara sederhana dapat di kemukakan bahwa GISA merupakan organisasi kader yg bertekad untuk terus meningkatkan kualitas diri, memiliki komitmem yg kuat dalam bidang agama(islam),GISA harus mampu membuat gerakan untuk membuat sebuah perubahan,

 

  GISA adalah sebuah organisasi kemahasiswaan/pemuda/santri dalam menjalanknan peranannya GISA harus membuka diri terhadap semua komponen masyarakat,membuka diri  terhadap ide_ide baru dari manapun datangnya ide itu,kata “membuka diri”buka berarti “Masuk dan larut”tetapi”menerima sebagai sebuah realita objektif”.bahwa di tengah_tengah masyarakat kita,sekarang  ini terdapat bermacam_macam dan beragam kebudayaan dan perpolitikan , dan ideology yang masing_masing  tumbuh dan berkembang dengan logika  pembenaran masing-masing.terhadap kenyataan semacam ini yang di butuhkan GISA adalah  dengan cara merespon,kalau pun dengan mengkritik harus di sampaikan dengan cara yg elegan dan argumentative ,”apa yg kita anggap baik,belum tentu baik pula buat kita,dan sebaliknya”.Tapi nanti,ketika kita berbaur kembali dan berbaur dalam lingkungan masyarakat,maka kita harus mampu Membangun masyarakat yang kritis:

  Menanggapi persoalan ini, yang harus kita perhatikan dalam rangka memperbaiki kesadaran politik rakyat agar mampu menjadi masyarakat yang kritis antara lain mandorong mereka untuk mengenal dan memahami makna politik yang sebenarnya. Atau dengan arti lain, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami pendidikan politik. Karena selama ini parpol sama sekali lalai dalam memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Kampanye yang sering parpol gembar-gemborkan sebagai pendidikan politik sejatinya hanyalah partisipasi yang di mobilisasi (mobilized participation) dan bukan partisipasi bagi penciptaan masyarakat yang kritis dan melek politik. untuk itulah GISA berperan penting  dalam lingkungan masyarakat, karena kader GISA adalah seorang misionaris  yang mengemban nilai dan nilai yang di emban adalah nilai islam rahmatan lil’alamin, serta amal ma’ruf nahi mukar akan senantiasa dalam perilaku dan gerak gerik seorang kader GISA di manapun ia berada, seorang kader GISA yg memiliki fungsi intelektual dan idiolog akan bersifat rendah hati Dalam kapasitas inilah, GISA perlu memperkuat identitasnya dengan mengingat kembali nilai – nilai sejarah yang telah di ukir dalam mewujudkan misi kepemimpinan. Semoga natinya kejayaan GISA menjadi kejayaan umat, persyarikatan dan Aceh ini.
Penulis: DEWAN PIMPINAN PUSAT GERAKAN INTELEKTUAL SE ACEH (DPP-GISA)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s